Kamis, 08 Desember 2011

Menabunglah Supaya Kamu Miskin

Judul di atas agak sedikit provokatif dan cenderung kontra terhadap apa yang sedang di kampanyekan oleh BI. Namun apabila Anda sejenak merenung mungkin tulisan ini bisa membuka cara pandang kenapa bangsa ini justru tidak maju karena kesalahan persepsi dan pola pikir dari menabung. Saya bukan dari golongan konsumerisme dan Alhamdulillah saya juga memiliki tabungan. Jadi saya tidak anti terhadap gerakan menabung.
 
Bank Indonesia baru-baru ini kembali menggiatkan kembali Gerakan Indonesia Menabung sebagaimana telah dicanangkan pada 20 Februari 2010. Gerakan Menabung pada tahun ini kembali dicanangkan dengan tema yang lebih serius yaitu "Sambut Hari Depan Terencana, Ayo Menabung". BI dan perbankan bahu membahu untuk mensukseskan gerakan ini dengan menetapkan hari Rabu pertama setiap bulan agar masyarakat menabung, khususnya pelajar.
 
Selain dengan pihak perbankan, BI juga bekerjasama dengan Kemendiknas melanjutkan program integrasi pendidikan keuangan dan perbankan kedalam kurikulum untuk SD dan SMP. Kurikulum yang mengajarkan agar dari kecil anak-anak kita sudah melek secara finansial khususnya menabung. Apabil anak-anak kita dari kecil sudah mengerti bagaimana tentang keuangan tentunya mereka akan cerdas dalam mengatur keuangannya dengan pembagian yang tepat. Yang paling sederhana adalah dengan prinsip 3/3, 1/3 untuk tabungan, 1/3 untuk investasi dan 1/3 terkahir untuk konsumsi.
 
Melihat Saving Rate to GDP di Indonesia yang katanya terendah se ASEAN ada yang bisa dianalisa. Berikut angka Saving Rate to GDP yang saya kutip dari Detik.
  • Singapura : 280,9%
  • Jepang : 146,2%
  • Malaysia : 105,5%
  • Filipina : 48.6%
  • India : 55%
  • USA : 44.8%
  • Indonesia : 36,9%
Apakah orang Indonesia sebegitu malasnya untuk menabung? Apakah jumlah Bank itu kurang sehingga akses perbankan kepada masyarakat masih kurang inklusif?
 
Analisis singkat dari kondisi yang ada saat ini adalah orang Indonesia tidak malas untuk menabung karena memang tidak ada yang mau ditabung alias untuk makan saja susah dan kecenderungannya apabila uang mereka yang sedikit itu ditabung di Bank bukan menghasilkan kemakmuran untuk mereka justru nilai uang itu yang semakin habis karena ada biaya administrasi dari bank. Terlebih lagi bila tidak aktif sering ada pinalti.
 
Lalu kenapa Indonesia bisa memiliki orang-orang kaya yang masuk 40 besar tapi nilai tabungan kita tetap terendah? Karena orang-orang kaya yang notabene pengusaha-pengusaha tionghoa ini lebih senang menaruh uangya di Singapura. Lihatlah angka 280% itu, saya sangat yakin para konglomerat itu menanamkan uangnya di institusi keuangan yang berdomisili di Singapura. Apalagi adanya Tax Treaty G to G antara pemerintah Indonesia dan Singapura yang menghapuskan pajak untuk seluruh transaksi yang terjadi antara penduduk Singapura dan pemerintah Indonesia. Wooow, kita mencoba mengeruk receh dari para sopir, petani, murid-murid sekolah dengan program Ayo Menabung, sementara para taipan-taipan indon bebas menaruh uangnya di luar negeri setelah mengeruk kekayaan alam dan sumberdaya Indonesia Raya untuk kekayaan dirinya.
 
Visi BI dengan mengkampanyekan Ayo Menabung untuk mengisi gap yang terjadi dalam saving rate dengan investment rate sebenarnya sangat masuk akal. Namun melihat kelakuan para Bankir Indo yang sangat pemalas, gerakan ayo menabung ini pada akhirnya hanya akan membuat bankir-bankir malas ini semakin enak mendapat dana murah. Terlebih lagi kalau Anda tahu berapa nilai bunga yang diberikan untuk tabunganku itu? Bunganya hanya sebesar 0.25 persen saja. Bunga satu persen baru diberikan jika saldonya di atas Satu Juta Rupiah. Dan dari salah satu Bank saya lihat untuk setiap penarikan dikenakan biaya Rp2.500. Benar-benar jebakan Batman kalo kata orang di Kaskus. Bagaimana rakyat kecil mau menabung kalau insentifnya kecil dan pada akhirnya yang sejahtera adalah para Bankir malas yang mengucurkan kredit dengan bunga tinggi dan menaruh kelebihan likuiditasnya pada SBI, Term Deposit atau SBN.
 
Kalau saya boleh mengutip pemikiran Bpk Budi Hermana dalam Kompasiana, "Jika alasannya sekedar menumbuhkan budaya menabung dan edukasi publik tentang fungsi dan peranan perbankan, kita mungkin bisa menerima alasan pemberian bunga yang alakadarnya tersebut. Namun jika alasannya adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendanaan pembangunan masyarakat, kita kembali bisa berdebat lagi".
 
Pada paragraph berikutnya justru beliau lebih kritis lagi bahwa, "Jika program Tabunganku ini berhasil sesuai dengan target BI sebesar Rp 50 Triliun dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, maka perbankan nasional kembali dapat memperoleh dana murah. Tidak ada jaminan bahwa dana sebesar tersebut memang betul-betul disalurkan oleh perbankan nasional untuk mendanai pembangunan nasional. Jika akhirnya memang disalurkan ke kredit untuk menumbuhkan sektor riil, bank malah bisa untung besar karena bunga kredit saat ini jarang yang di bawah 5 persen, kalau tidak bisa disebut mustahil serendah itu. Lagi-lagi bank yang lebih diuntungkan." Menurut Bpk Budi, “Meningkatkan Partisipasi Masyarakat untuk Membantu Bank untuk Mendanai Pembangunan Bank” justru lebih tepat."
 
Kalau BI mau menggerakkan angka pertumbuhan dengan harapan akan semakin banyak investasi dari perbankan dari dana yang terkumpul sudah sewajarnya yang harus diatur itu para bankir malas dan cenderung tidak mau menurunkan suku bunga kredit. Terlalu banyak instrumen moneter yang mereka mainkan untuk kepentingan profit bukan untuk tujuan asalnya pengelolaan likuiditas. Berapa banyak Bank di negeri ini yang LDR/FDR nya lebih dari 100%. Mungkin hanya 1 atau 2 bank itupun kemungkinannya bank syariah.
 
Dalam Islam justru masalah ekonomi ini telah diatur dengan baik, sehingga harta itu tidak berkumpul hanya pada sekelompok orang saja sebagaimana diatur dalam Surat Al-Hasyr ayat 7 yang artinya :”supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Oleh karenanya tidak ada pilihan lain kecuali memproduktifkan harta yang kita miliki dengan cara membangun bisnis dan berinvestasi. Membangun bisnis dengan kaidah-kaidah yang telah diajarkan dalam syari’at islam, bisnis Islami. Begitu pula ketika berinvestasi.
 
Dengan ditabung saja, disamping tidak produktif, uang kita juga berpotensi berkurang terus karena ketika tabungan tersebut sudah mencapai nishab harus menunaikan zakatnya. Sedang bila di produktifkan, sekalipun juga berkewajiban menunaikan zakatnya tetapi insya Allah harta kita akan terus berkembang.
 
Memang menabung dalam kondisi dan maksud tertentu sangatlah bagus. Untuk persediaan sekolah anak-anak, ingin naik haji, ingin membangun rumah, beli mobil, perencanaan bisnis dll, kita bisa persiapkan dengan cara menabung. Jadi tidak salah kalau motif menabung itu adalah untuk jaga-jaga. Adapun untuk untuk jangka panjang uang yang sudah terkumpul tersebut selayaknya diinvestasikan, karena kalau tidak berinvestasi pastilah nilainya akan turun dari tahun ke tahun apakah tergerus inflasi, dan biaya administrasi.
 
Justru sebaiknya sekarang ini yang perlu digalakkan kembali ada semangat kekeluargaan yang diimpikan oleh Bung Hatta dalam Koperasi. Simpanan para anggota yang kecil-kecil akan dihimpun untuk mewujudkan kekuatan rakyat, dari rakyat untuk rakyat. Semoga rakyat Indonesia di masa depan semakin berdaulat dari sisi ekonomi, bukan menjadi obyek eksploitasi kaum kapitalis.
 
Merdeka, Merdeka !!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar