Kamis, 08 Desember 2011

Olahraga dengan Berbasis Kompetensi Daerah

Apakah Anda termasuk yang senang ketika Indonesia menang melawan vietnam pada SEA Games ini? Apakah Anda termasuk orang yang sangat berharap Indonesia menang melawan Malaysia?
 
Saya sangat yakin apabila Anda memiliki nasionalisme yang tinggi jawabannya adalah sangat senang dan sangat berharap Indonesia bisa menang. Optimisme ini mulai terbangun ketika melihat para pemain U23 dapat menyajikan penampilan yang cukup menarik, walaupun belum kadang masih tidak konsisten dan tertata dengan baik.
 
Pada awalnya melihat kemampuan dan beberapa kali kehebatan Octo dan Bonai terlintas pemikiran di kepala saya bahwa ada apa dengan Saudara kita yang dari Papua ini. Setelah merenung, saya terpikir bahwa melihat budaya dan kebiasaan orang Papua yang adat istiadatnya masih kuat sampai sekarang justru menjadi nilai unggul.
 
Di mana keunggulannya? Secara tidak langsung dengan ketidakadilan yang dilakukan Negara ini terhadap warga Papua, mereka berusaha survive dengan segala keterbatasan dan keterbelakangannya. Alam sudah menjadikan mereka kuat dan terampil untuk menguasai alam dengan cara-cara yang baik dan seimbang. Mereka juga terlatih untuk bekerjasama secara berkelompok untuk mencapai tujuan kelompoknya, seperti ketika mereka berburu. Ada leader dan ada pemburu, mereka tahu kapan harus bergerak dan kapan harus melepaskan busur. Kalau mereka tidak kompak sudah pasti hewan yang diburu tersebut akan kabur.
 
Mencoba untuk membuat analogi pertandingan bola dengan perburuan (mohon maaf kalau tidak berkenan, namun niat dari tulisan ini adalah untuk menunjukkan kelebihan dan keunggulan), kegagalan demi kegagalan tim nasional sepakbola Indonesia tidak lepas dari kekompakan dan kemampuan tim. Sudah tidak kompak, tidak kompeten pula. Naluri ingin menjadi one man show selalu menjadi benih-benih kegagalan sehingga kerjasama tim bubar. Ingin tampil sebagai one man show juga tidak disertai kemampuan yang mumpuni sehingga terkesan konyol. Menendang untuk arah yang tidak pasti, kadang ke atas gawang, kadang ke tangkap kiper atau salah oper ke lawan.
 
Kembali ke warga Papua? Dengan kemampuan alam orang-orang Papua yang seandainya dilatih untuk bermain bola akan memiliki keunggulan yang lebih dibanding orang-orang lain di luar Papua. Apa hal bisa seperti itu? Kemampuan orang papua yang sudah terlatih dengan alam dan kekompakan mereka ketika ingin mencapai suatu tujuan sudah menjadi keunggulan. Ditambah lagi daya tahan fisik mereka sudah dapat dipastikan mereka lebih kuat dari orang-orang Indonesia yang sudah terbiasa di manja.
 
Berangkat dari kondisi persepakbolaan, saya juga terpikir kenapa pengembangan bidang olahraga tidak disinergikan dengan latar belakang dan adat istiadat di Indonesia ini yang cukup beragam. Coba lihat loncat batu di Nias, kalau orang Nias bisa melompati batu tanpa harus menggunakan galah maka apalagi kalau diikutsertakan lomba galah atau lompat jauh kemungkinan besar mereka bisa melompati lebih tinggi atau lebih jauh dari orang-orang Indonesia lainnya. Bidang olah raga lain, lempar lembing atau cakram atau memanah, bidang olah raga ini juga dapat dilakoni oleh penduduk Indonesia yang punya latar belakang budaya yang berhubungan dengan olahraga tersebut dapat memberikan nilai unggul untuk Indonesia.
 
Demikian, tulisan ini hanya sekedar pemikiran kenapa Indonesia yang kaya budaya dan adat-istiadat hanya dilihat sebagai bagian dari pariwisata bukan sebagai keunggulan untuk mencapai kemenangan diberbagai bidang apakah itu olahraga, perdagangan atau kemajuan dan kedaulatan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar