Rabu, 14 Desember 2011

Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Kira-kira inilah impian para pendahulu dan pendiri bangsa ini untuk menjadikan rakyat Indonesia Tuan di Negeri Sendiri. Namun apa daya dan kuasa, para pemimpin negeri ini terlalu banyak berkutat untuk kekuasaan pribadi semata. Setiap 5 tahun diadakan pemilu, dan setiap 5 tahun pula Undang-Undang pemilu diubah. Pajak setiap tahun naik, namun setiap tahun pula gaji dan fasilitas seluruh pejabat negara ikut naik sehingga sisa dari pajak tersebut hanya sedikit yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

Kemungkinan negeri ini untuk bisa mendapatkan pemimpin yang benar-benar adil sangat jauh. Karena itu tidak perlu berharap untuk melihat pemimpin berubah namun setiap oranglah berusaha sebaik mungkin melakukan kebaikan untuk perubahan kepada Indonesia. Bukankan Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak berusaha mengubahnya.

Menjadi Tuan di Negeri Sendiri itu dapat diwujudkan melalui berbagai program misalnya
1. Pengembangan Penelitian
2. Peningkatan Kemampuan Rakyat
3. Penggunaan Produk Nasional

Ilmu pengetahuan merupakan kunci bagi kekuatan. Dari sejarah dapat diketahui bagaimana bangsa yang memiliki pengetahun dapat menguasai bangsa yang bodoh. Seperti bangsa Spanyol yang dapat menundukkan daerah jajahannya ketika mereka mulai menguasai penggunaan mesiu dan meriam. Spanyol menggunakan ilmu yang mereka miliki untuk merampas kedaulatan dan kekayaan bangsa lain. Di era modern, kita bisa lihat bagaimana Amerika dengan keilmuan yang mereka miliki dapat menggulingkan para pemimpin negara-negara yang mereka tidak sukai. Seperti menunggu waktu, Iran pun sebentar lagi akan menjadi ajang uji coba tentara marinir Amerika. (semoga Tuhan tidak merestui pekerjaan itu).

Penggunaan teknologi juga dapat dipakai untuk kemajuan dalam ekonomi. Jepang dan China adalah contoh yang tepat bagaimana perkembangan teknologi berkembang pesat di dua negeri ini. Mereka menjual produk-produk tersebut ke seluruh dunia. Dan menjadi produk unggulan di negara orang.

Lalu kenapa Indonesia tidak bisa maju? Apakah terlalu banyak orang yang tidak pintar? Sebenarnya bukan karena rakyat Indonesia tidak pintar, namun karena pemerintah tidak memberikan insentif kepada pengusaha-pengusaha kecil. Pemerintah lebih menaruh perhatian kepada pengusaha-pengusaha besar yang memiliki modal besar dan memberikan janji-janji yang manis.

Apakah sebenarnya tidak boleh mengundang pengusaha besar untuk masuk ke Indonesia? Bolehlah dan haruslah. Namun inilah yang lucu, bangsa kita ini ketika bernegosiasi dengan asing selalu berposisi sebagai hamba, padahal tanpa seperti itupun negara ini adalah surga bagi para investor. Seharusnya ketika ada kontrak-kontra kerja Penanaman Modal Asing (PMA) terutama PMA yang memiliki teknologi tinggi harus dibuat persyaratan bahwa harus ada alih teknologi. Lihatlah Toyota yang sudah hampir bercokol di Indonesia kurang lebih 40 tahun. Apa iya bangsa ini bisa menciptakan kendaraan sekelas mobil avanza atau kijang innova? Kalau iya, kenapa sampai sekarang pemerintah tidak berani menciptakan mobil nasional? Apakah ongkosnya terlalu mahal? Atau karena tidak percaya dengan kemampuan bangsanya sendiri??

Mohon maaf kalau ada yang tidak suka dengan negara Malaysia, sebenarnya juga saya tidak suka dengan negara ini terlebih dengan kasus-kasus yang sekarang sering kita dengar di Kalimantan dan Lampung, namun negara ini menjadi contoh yang sangat baik bagaimana Negara sangat cerdas untuk melindungi kedaulatan Negaranya apakah itu dari ekonomi, teknologi bahkan daerah-daerah perbatasan yang ada dipelosok pulau Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Di Malasyia perbedaan ras dan etnis diatur dalam  Undang-Undang. Penduduk Melayu asli memiliki hak yang lebih daripada etnis pendatang. Penduduk Melayu diberikan insentif yang lebih oleh pemerintah Malaysia walaupun pada prakteknya kesadaran akan keberagaman sudah diakui sampai sekarang.

Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki paham liberalisasi (kebebasan) dengan derajat kebebasan yang cukup tinggi. Derajat kebebasan yang justru menjadi bumerang bagi negara Indonesia ini adalah kebebasan yang terjadi di sektor ekonomi. Contoh paling nyata adalah begitu mudahnya asing untuk menguasai sektor-sektor ekonomi penting seperti perbankan, pertanian, perkebunan dan kehutanan. Di sektor perbankan asing dapat menguasai 99% saham, di sektor pertanian asing dapat menguasai rantai suplai dari hulu ke hilir, di sektor perkebunan dan kehutanan asing dapat menguasai lahan-lahan hutan yang dengan mudah dikonversi menjadi lahan perkebunan dengan bantuan pemerintah daerah setempat. Siapa yang meraup untuk dari ini semua adalah asing. Banyak bank-bank swasta nasional yang saat ini dimiliki oleh asing seperti Malaysia dan Singapura. Banyak hutan dan kebun kita yang dikuasai oleh asing, seperti kebun-kebun sawit milik perusahaan-perusahaan Malaysia, dan Singapura.

Lalu kenapa kita menjadi bangsa yang begitu rela dijajah oleh Bangsa lain? Tidak lain dan tidak bukan mungkin karena gengsi ikut forum internasional seperti WTO, AFTA atau sejenisnya sementara di dalam negeri kekuatan ekonomi belum bisa mendorong pertumbuhan dan kemajuan.

Seperti kejadian di Lampung, kenapa pemerintah lebih melindungi asing daripada penduduknya sendiri. Tidak mungkin para petani itu mau merelakan tanahnya karena mereka adalah penduduk transmigrasi yang mata pencariannya berasal dari bertani. Apakah pemerintah hanya ingin melihat rakyatnya menjadi buruh di tanah Indonesia? Seharusnya tidak, rakyat kita seharusnya menjadi tuan di tanahnya sendiri. Pemerintah seharusnya justru melindungi rakyat dari kepentingan-kepentingan asing yang ingin merampas seluruh kekayaan negara kita.

Jadi bagaimana solusinya?
Inilah yang berat, karena sebenarnya diperlukan kearifan dan kebijakan pemimpin untuk menciptakan kemajuan di negeri ini. Semakin banyak pejabat yang memiliki kekuasaan dan selalu ingat kepada rakyatnya maka semakin maju negeri ini. Pro rakyat bukan Pro Pasar. Para wakil rakyat apakah itu di DPR/DPRD dan DPD bantulah rakyat untuk maju, lindungilah. Itulah ibadah yang paling mulia ketika anda menjadi pejabat ataupun wakil rakyat. Semoga semakin banyak Pejabat dan Wakil Rakyat Indonesia yang secara ikhlas bekerja untuk rakyat dan menjaga kedaulatan rakyat dan negaranya. Menjaga kedaulatan Negara bukan dari sekedar menjaga wilayah daratan dan laut, tetapi juga harga diri dan martabat Rakyat Indonesia di Indonesia dan Dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar