Jumat, 09 Desember 2011

Kemandirian terhadap Energi adalah Kunci Kesejahteraan Rakyat (Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI)


Ketika saya berusaha berimajinasi sebagai seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) pertanyaan yang tidak bisa saya jawab adalah sebenarnya kerja saya ini apa? Mungkin bagi saya dan hampir sebagian besar rakyat jelata lainnya di Indonesia pertanyaan ini adalah pertanyaan umum. Dugaan saya ini semakin mendekati benar jika melihat hasil pooling di website DPD-RI, karena hampir 59% responden tidak mengetahui satupun nama anggota DPD dari tempatnya tinggal (posisi pooling tanggal 9 Desember 2011). Walaupun bagi saya, sebagai warga jakarta, tidak asing melihat ada beberapa foto anggota DPD-RI yang mejeng di billboard atau koran hanya sekedar mengucapkan selamat hari raya atau apalah yang menurut saya tidak ada gunanya untuk kesejahteraan rakyat.
Menurut amandemen ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 22D fungsi DPD adalah dapat mengajukan, ikut membahas, dan melakukan pengawasan terhadap Undang-Undang yang berhubungan dengan otonomi daerah, pemekaran daerah dan pengelolaan sumberdaya alam dan ekonomi serta perimbangan keuangan daerah dan pusat. Berarti peran DPD-RI ini menurut UUD 1945 tidak cukup kuat untuk menyampaikan aspirasi rakyat di daerah karena hak untuk mengajukan legislasi ternyata dikuasai oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Dengan peran yang kurang kuat ini saya  mulai bisa berimajinasi bahwa sebagai anggota DPD ternyata cukup berat tantangan yang harus dihadapi. Namun inilah hidup, tantangan akan membawa kebaikan apabila bisa dihadapi dengan baik. Terutama apabila anggota DPD menjadi teladan dan contoh di daerah pemilihannya. Misalnya dengan menjadi motor penggerak membantu Kemandirian Rakyat Terhadap Energi dan Ketahanan Pangan.
Apabila saya menjadi anggota DPD-RI, dengan jejaring yang saya miliki apakah itu dipemerintahan, DPRD dan swasta akan saya ajak untuk mendorong program kemandirian tersebut. Misalnya di daerah pemilihan saya cocok untuk budidaya singkong, maka dengan terjun ke lapangan dan berkoordinasi dengan muspida setempat serta dengan memanfaatkan segala hak yang dimiliki anggota DPD akan saya bangun daerah pemilihan saya itu menjadi daerah yang memiliki ketahanan pangan dan kemandirian energi lewat budidaya singkong dan segala produk turunannya seperti produk bioetanol. Saat ini bioetanol dari umbi-umbian seperti singkong, jagung, tebu merupakan sumber energi terbarukan yang dapat digarap oleh masyarakat. Begitu baiknya Allah SWT kepada bangsa ini hampir seluruh daratan di Indonesia dapat ditanami dengan singkong. Dengan kemampuan masyarakat untuk menciptakan energi terbarukan ini mereka dapat menggunakannya sendiri dan juga menjualnya, sehingga dua hal dapat dicapai yakni ketahanan pangan tercapai dan kemandirian energi pun tercapai.
Saya berkeyakinan kalau anggota DPD itu memiliki semangat enterprenuership yang tinggi, maka dapat menjadi inisiator dalam membantu dan mendorong agar rakyat lebih sejahtera dengan menggali potensi ekonomi UMKM yang ada di daerah. Sebagai anggota DPD kenapa saya lebih fokus pada urusan ekonomi, karena urusan perut itu nomor satu. Rakyat yang belum sejahtera pasti tidak akan bisa diajak untuk berpolitik dan berdemokrasi. Rakyat yang untuk makan saja susah sudah pasti tidak akan peduli pada anggota DPD. Jadi kunci kemandirian rakyat terhadap energi adalah senjata ampuh untuk mengangkat derajat ekonomi rakyat Indonesia.

Kamis, 08 Desember 2011

Subsidi BBM dan Kemandirian Masyarakat terhadap BBM/BBG

Masih belum lepas dari ingatan kita bagaimana masyarakat di Indonesia mengantri BBM khususnya minyak tanah. Kemudian ketika penggunaan minyak tanah dikonversi dengan LPG (tabung gas 3kg) banyak kasus kebakaran yang disebabkan tabung gas meledak, walaupun Pertamina selalu membantah bahwa tabung gas mereka tidak pernah bocor. Justru menurut mereka konsumenlah yang tidak mengerti cara menggunakan tabung gas. Begitulah di negeri ini paling mudah menyalahkan rakyat sementara para pejabat bergelimang harta dan fasilitas yang dibayar dari uang rakyat tidak merasakan susahnya hidup di negeri yang kaya raya ini.
Minyak Tanah dan Gas 
Minyak tanah atau dikenal kerosen atau paraffin diperoleh dengan cara distilasi fraksional dari petroleum pada 150 °C and 275 °C (rantai karbon dari C12 sampai C15). Di Indonesia, minyak tanah banyak digunakan sebagai bahan bakar lampu dan juga untuk memasak. Namun kehadiran minyak tanah mulai tergantikan perannya sejak hadirnya listrik yang dapat menjadi sumber energi untuk penerangan dan adanya program konversi LPG.
Minyak tanah merupakan salah satu energi yang mendapat subsidi dari pemerintah. Pemerintah memberikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk membantu kegiatan ekonomi rakyatnya. Hal ini dikarenakan masih besarnya ketergantungan sektor ekonomi rakyat terhadap BBM. Karena besarnya subsidi yang diberikan pemerintah kepada bahan bakar minyak, sehingga pemerintah harus mengeluarkan dana APBN lebih besar lagi seiring meningkatnya harga minyak dunia, oleh sebab itu pemerintah beserta DPR telah bersepakat untuk menghapuskan subsidi BBM secara bertahap seperti tertuang pada UU No. 25/2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas).
Bila masyarakat sudah meninggalkan minyak tanah, pemerintah Indonesia memang mendapatkan kebaikan karena peningkatan efisiensi. Dalam perbandingan subsidi, untuk minyak tanah adalah sebanyak Rp.36,65 trilyun, sementara untuk LPG Rp.16,53 trilyun. Artinya pemerintah Indonesia bisa berhemat sekitar Rp.20 trilyun bahkan bisa lebih besar.
Kemandirian Masyarakat
Apabila pemerintah merasa berat untuk terus membiayai subsidi sementara kebutuhan terhadap energi itu adalah kebutuhan pokok dan terus meningkat dari tahun ke tahun, mengapa pemerintah tidak menciptakan atau paling tidak memberikan insentif yang baik pada swasta untuk memproduksi energi terbarukan. Dengan demikian masyarakat pun tidak lagi bergantung pada pertamina atau perusahaan-perusahaan besar yang cenderung memonopoli energi. Atau jangan-jangan memang pemerintah tidak ingin rakyatnya mandiri dalam mempergunakan energi.
Apabila pemerintah ingin rakyatnya mandiri secara energi maka sebenarnya tidak sulit. Sebab banyak model-model energi terbarukan yang seharusnya bisa dijangkau oleh masyarakat seperti energi biogas, bioetanol, dan cahaya matahari. Mungkin saat ini harganya mahal, namun apabila sudah diproduksi secara massal kemungkinan harganya pun bisa turun. Mirip seperti handphone, pada waktu awal kemunculannya harganya pasti mahal. Tapi coba lihat sekarang banyak handphone yang harganya relatif murah.
Pertanyaan yang  mengelitik adalah apakah pemerintah tidak menyadari hal ini atau tutup mata karena ada kepentingan bisnis yang ingin tetap dilindungi. Peran kementrian ESDM sepertinya tidak terlihat dengan baik untuk berupaya memandirikan masyarakatnya. Kementrian lebih sering mengkampanyekan hemat energi atau pergunakanlah BBM non subsidi. Apakah arti dari hemat energi itu? atau apakah maksud dibalik penggunaan BBM Non Subsidi? Atau rakyat dipaksa hidup susah dengan membeli energi yang mahal. Energi adalah sumber yang mutlak diperlukan bukan dihemat. Konsep penghematan energi cuma ideologi yang ditanamkan negara-negara maju supaya negara berkembang tidak bisa bebas mengeksplorasi kekayaan alamnya. Padahal justru negara-negara maju tersebut adalah negara yang paling rakus mengeruk kekayaan negara-negara berkembang untuk kesejahteraan rakyat dan negaranya. Semiskin-miskinnya eropa atau se-krisis-krisisnya eropa, lebih melarat negara berkembanglah seperti Indonesia.

Berikut ini saya kutip dari blog pribadinya Edmond, yang menyatakan bahwa dari berbagai literatur dan jurnal maupun karya-karya ilmiah, ethanol/bioethanol (alkohol) dapat diproduksi dengan menggunakan bahan-baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, yaitu melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air. Beberapa jenis tanaman yang banyak dijumpai sebagai bahan baku produksi etanol/bioetanol antara lain; ubi jalar, ubi kayu, sorgum manis (cantel), jagung, molasse (tetes tebu - hasil samping produksi gula), dan aren (nira aren).Edmond juga setuju kalau produksi bioetanol ditujukan untuk memenuhi kebutuhan daerah setempat sehingga daerah tersebut dapat mulai mengurangi tingkat ketergantungan pasokan BBM nasional. Seterusnya daerah tersebut mempunyai peluang menjadi kontributor pasokan nasional bilamana produksi bioetanolnya mengalami surplus. Produksi pada tingkat lokal juga memberikan kontribusi bagi penyediaan lapangan kerja sekaligus sebagai sumber pendapatan asli daerah.
Berikut ini saya cuplikan hitung-hitungan untung rugi pembuatan bioetanol berdasarkan http://komporbioetanol.blogspot.com/
Mungkin tulisan ini masih kurang lengkap namun bisa memberikan gambaran bahwa industri bioetanol ini dapat digarap oleh sektor UMKM. Yang perlu dipikirkan dan perjuangkan lagi adalah industri turunannya. Harus juga didukung perusahaan yang mau menciptakan alat yang bisa menggunakan bioetanol ini misalnya kompor bioetanol, genset bioetanol dan mesin-mesin pertanian dengan bahan bakar bioetanol, sehingga dapat mendukung pemasaran bioetanol itu sendiri.
Malaysia Sudah Di Depan
Malaysia sudah berada di depan untuk masalah energi terbarukan. Malaysia memegang hak paten untuk pengolahan limbah sawit sebagai bahan baku bioetanol. Dan yang paling perlu diwaspadai adalah Malaysia berinvestasi di Indonesia sebesar $350 juta. Mereka sudah siap untuk menjadi pionir dengan memanfaatkan lahan-lahan di Indonesia. Dan sudah bisa dipastikan mereka akan menguasai rantai energi terbarukan di Indonesia dengan mematikan industri rakyat yang kecil.
Selama 66 tahun merdeka, Indonesia tidak pernah leluasa untuk mengatur kekayaan alam yang dimiliki seperti minyak dan gas bumi. Indonesia selalu kalah dalam negosiasi-negosiasi kontrak kerja pengolahan minyak dan gas bumi.
Mumpung belum banyak pesaing dari energi terbarukan ini kenapa tidak kita jadikan Indonesia negara produsen energi terbarukan terbesar di dunia. Sebagaimana ada organisasi yang mengkampanyekan Panen Raya Singkong dan Panen Energi.
Go Green is not slogan but It is out destiny to achieve our advantage in renewable energy.

Olahraga dengan Berbasis Kompetensi Daerah

Apakah Anda termasuk yang senang ketika Indonesia menang melawan vietnam pada SEA Games ini? Apakah Anda termasuk orang yang sangat berharap Indonesia menang melawan Malaysia?
 
Saya sangat yakin apabila Anda memiliki nasionalisme yang tinggi jawabannya adalah sangat senang dan sangat berharap Indonesia bisa menang. Optimisme ini mulai terbangun ketika melihat para pemain U23 dapat menyajikan penampilan yang cukup menarik, walaupun belum kadang masih tidak konsisten dan tertata dengan baik.
 
Pada awalnya melihat kemampuan dan beberapa kali kehebatan Octo dan Bonai terlintas pemikiran di kepala saya bahwa ada apa dengan Saudara kita yang dari Papua ini. Setelah merenung, saya terpikir bahwa melihat budaya dan kebiasaan orang Papua yang adat istiadatnya masih kuat sampai sekarang justru menjadi nilai unggul.
 
Di mana keunggulannya? Secara tidak langsung dengan ketidakadilan yang dilakukan Negara ini terhadap warga Papua, mereka berusaha survive dengan segala keterbatasan dan keterbelakangannya. Alam sudah menjadikan mereka kuat dan terampil untuk menguasai alam dengan cara-cara yang baik dan seimbang. Mereka juga terlatih untuk bekerjasama secara berkelompok untuk mencapai tujuan kelompoknya, seperti ketika mereka berburu. Ada leader dan ada pemburu, mereka tahu kapan harus bergerak dan kapan harus melepaskan busur. Kalau mereka tidak kompak sudah pasti hewan yang diburu tersebut akan kabur.
 
Mencoba untuk membuat analogi pertandingan bola dengan perburuan (mohon maaf kalau tidak berkenan, namun niat dari tulisan ini adalah untuk menunjukkan kelebihan dan keunggulan), kegagalan demi kegagalan tim nasional sepakbola Indonesia tidak lepas dari kekompakan dan kemampuan tim. Sudah tidak kompak, tidak kompeten pula. Naluri ingin menjadi one man show selalu menjadi benih-benih kegagalan sehingga kerjasama tim bubar. Ingin tampil sebagai one man show juga tidak disertai kemampuan yang mumpuni sehingga terkesan konyol. Menendang untuk arah yang tidak pasti, kadang ke atas gawang, kadang ke tangkap kiper atau salah oper ke lawan.
 
Kembali ke warga Papua? Dengan kemampuan alam orang-orang Papua yang seandainya dilatih untuk bermain bola akan memiliki keunggulan yang lebih dibanding orang-orang lain di luar Papua. Apa hal bisa seperti itu? Kemampuan orang papua yang sudah terlatih dengan alam dan kekompakan mereka ketika ingin mencapai suatu tujuan sudah menjadi keunggulan. Ditambah lagi daya tahan fisik mereka sudah dapat dipastikan mereka lebih kuat dari orang-orang Indonesia yang sudah terbiasa di manja.
 
Berangkat dari kondisi persepakbolaan, saya juga terpikir kenapa pengembangan bidang olahraga tidak disinergikan dengan latar belakang dan adat istiadat di Indonesia ini yang cukup beragam. Coba lihat loncat batu di Nias, kalau orang Nias bisa melompati batu tanpa harus menggunakan galah maka apalagi kalau diikutsertakan lomba galah atau lompat jauh kemungkinan besar mereka bisa melompati lebih tinggi atau lebih jauh dari orang-orang Indonesia lainnya. Bidang olah raga lain, lempar lembing atau cakram atau memanah, bidang olah raga ini juga dapat dilakoni oleh penduduk Indonesia yang punya latar belakang budaya yang berhubungan dengan olahraga tersebut dapat memberikan nilai unggul untuk Indonesia.
 
Demikian, tulisan ini hanya sekedar pemikiran kenapa Indonesia yang kaya budaya dan adat-istiadat hanya dilihat sebagai bagian dari pariwisata bukan sebagai keunggulan untuk mencapai kemenangan diberbagai bidang apakah itu olahraga, perdagangan atau kemajuan dan kedaulatan bangsa.

E-Money and Road Congestion

Traffic jam is common for citizens of Jakarta. Especially when it had rained all day long. Everybody in Jakarta has been adapted with this situation. In working hour and weekday, it is normal to see many motor vehicles queueing in road and toll road. This phenomena is caused by the increasing number of motor vehicles not as much as the increasing of extensive of road.
 
The master plan of transportation development in Jakarta is unsystematic. All public transportation in Jakarta is depend on bus, minibus and microbus (mikrolet). To complicate the traffic problem in Jakarta, frequently the route of one bus to another bus is overlapping so this situation makes the competition is very tight. And the bad news is the competition does'nt bring the operator buses to deliver good services. Passangers seldom become a victim of reckless driver of the bus. To more complicate the problem, the indirect route , which the bus should go by, contributes extra time for passangers to get their destinastions. It's very nightmare to faces all of these. 
 
To sweeten people living in Jakarta, The Government of Province Jakarta has introduced semi rapid bus named Trans Jakarta. This kind of bus is imitated the same kind bus like in Bogota. Although it is far from equal if compared to Bogota's. Mr. Sutiyoso, a former Governor of Jakarta, conviced that the bus is an alternative solution to break the problem of traffic jam in Jakarta. Is it the best solution? At this moment, Trans Jakarta is not the best solution. The big problem is many citizens of Jakarta are very reluctant to leave their motor vehicles at home. Because there are small benefits that people are perceived at this time. To attract people to use public transportation, the minimal requisites that should exists like the punctual schedule, comfortable situation, readiness, security and easiness to transfer other bus.
 
And now, let's talk about E-Money. Do you think if all banks which have e-money instruments can help Jakarta to reduce the road congestion? May be not and may be yes. As we know BI, Ministry of transportation and Ministry of Information have sign in an agreement to make Formulation of Policies and Interconnection Standards and Interoperability of Electronic Money in the Transport Sector. The Key word is Interoperability.
 
What's wrong with interoperability? Interoperability can present eficiency for customers. Interoprability will reduce the power of monopoly which is owned by some banks. This time, some banks which have much money can build their system information infrastucture better thant the other banks which have not much money. Two big players in Indonesia namely Mandiri dan BCA have own their E-money to be used at station petrol, mini market (Alfa and Indomaret), and some department store.
 
For the players, interoperability will sign as a threat. Who will gain the victorius if the interoperability is a must? I'm quite sure BCA will be the leader and the winner. Why? Although I don't have the data, I'm sure threre are more people have BCA account instead of Mandiri account. This assumption will lead to conclusion that many people will have BCA card or E-money published by BCA like Flazz Card, Kompas Card, Paspor BCA, and etc.
 
Mandiri will not agree to this condition. As government owned enterprises, Mandiri will try to hold the monopoly E-money in toll road. And the eficiency for customer will not be created. Liberalization in bussiness is good but it's not good if it is caused we sacrificed our entreprises on behalf of interoperability or efficiency. But this situation can be reversed if all Mandiri card can be used in all BCA devices. At this point, Mandiri will gain some benefits from lose his monopoly at E-toll card.
 
I don't think interoperability will reduce the traffic congestion.
The problem is very basic, too many cars and motor bikes in Jakarta. The goverment should solve the rapid and mass transportation. If you chase two rabbits, you will not catch either one. 

Menabunglah Supaya Kamu Miskin

Judul di atas agak sedikit provokatif dan cenderung kontra terhadap apa yang sedang di kampanyekan oleh BI. Namun apabila Anda sejenak merenung mungkin tulisan ini bisa membuka cara pandang kenapa bangsa ini justru tidak maju karena kesalahan persepsi dan pola pikir dari menabung. Saya bukan dari golongan konsumerisme dan Alhamdulillah saya juga memiliki tabungan. Jadi saya tidak anti terhadap gerakan menabung.
 
Bank Indonesia baru-baru ini kembali menggiatkan kembali Gerakan Indonesia Menabung sebagaimana telah dicanangkan pada 20 Februari 2010. Gerakan Menabung pada tahun ini kembali dicanangkan dengan tema yang lebih serius yaitu "Sambut Hari Depan Terencana, Ayo Menabung". BI dan perbankan bahu membahu untuk mensukseskan gerakan ini dengan menetapkan hari Rabu pertama setiap bulan agar masyarakat menabung, khususnya pelajar.
 
Selain dengan pihak perbankan, BI juga bekerjasama dengan Kemendiknas melanjutkan program integrasi pendidikan keuangan dan perbankan kedalam kurikulum untuk SD dan SMP. Kurikulum yang mengajarkan agar dari kecil anak-anak kita sudah melek secara finansial khususnya menabung. Apabil anak-anak kita dari kecil sudah mengerti bagaimana tentang keuangan tentunya mereka akan cerdas dalam mengatur keuangannya dengan pembagian yang tepat. Yang paling sederhana adalah dengan prinsip 3/3, 1/3 untuk tabungan, 1/3 untuk investasi dan 1/3 terkahir untuk konsumsi.
 
Melihat Saving Rate to GDP di Indonesia yang katanya terendah se ASEAN ada yang bisa dianalisa. Berikut angka Saving Rate to GDP yang saya kutip dari Detik.
  • Singapura : 280,9%
  • Jepang : 146,2%
  • Malaysia : 105,5%
  • Filipina : 48.6%
  • India : 55%
  • USA : 44.8%
  • Indonesia : 36,9%
Apakah orang Indonesia sebegitu malasnya untuk menabung? Apakah jumlah Bank itu kurang sehingga akses perbankan kepada masyarakat masih kurang inklusif?
 
Analisis singkat dari kondisi yang ada saat ini adalah orang Indonesia tidak malas untuk menabung karena memang tidak ada yang mau ditabung alias untuk makan saja susah dan kecenderungannya apabila uang mereka yang sedikit itu ditabung di Bank bukan menghasilkan kemakmuran untuk mereka justru nilai uang itu yang semakin habis karena ada biaya administrasi dari bank. Terlebih lagi bila tidak aktif sering ada pinalti.
 
Lalu kenapa Indonesia bisa memiliki orang-orang kaya yang masuk 40 besar tapi nilai tabungan kita tetap terendah? Karena orang-orang kaya yang notabene pengusaha-pengusaha tionghoa ini lebih senang menaruh uangya di Singapura. Lihatlah angka 280% itu, saya sangat yakin para konglomerat itu menanamkan uangnya di institusi keuangan yang berdomisili di Singapura. Apalagi adanya Tax Treaty G to G antara pemerintah Indonesia dan Singapura yang menghapuskan pajak untuk seluruh transaksi yang terjadi antara penduduk Singapura dan pemerintah Indonesia. Wooow, kita mencoba mengeruk receh dari para sopir, petani, murid-murid sekolah dengan program Ayo Menabung, sementara para taipan-taipan indon bebas menaruh uangnya di luar negeri setelah mengeruk kekayaan alam dan sumberdaya Indonesia Raya untuk kekayaan dirinya.
 
Visi BI dengan mengkampanyekan Ayo Menabung untuk mengisi gap yang terjadi dalam saving rate dengan investment rate sebenarnya sangat masuk akal. Namun melihat kelakuan para Bankir Indo yang sangat pemalas, gerakan ayo menabung ini pada akhirnya hanya akan membuat bankir-bankir malas ini semakin enak mendapat dana murah. Terlebih lagi kalau Anda tahu berapa nilai bunga yang diberikan untuk tabunganku itu? Bunganya hanya sebesar 0.25 persen saja. Bunga satu persen baru diberikan jika saldonya di atas Satu Juta Rupiah. Dan dari salah satu Bank saya lihat untuk setiap penarikan dikenakan biaya Rp2.500. Benar-benar jebakan Batman kalo kata orang di Kaskus. Bagaimana rakyat kecil mau menabung kalau insentifnya kecil dan pada akhirnya yang sejahtera adalah para Bankir malas yang mengucurkan kredit dengan bunga tinggi dan menaruh kelebihan likuiditasnya pada SBI, Term Deposit atau SBN.
 
Kalau saya boleh mengutip pemikiran Bpk Budi Hermana dalam Kompasiana, "Jika alasannya sekedar menumbuhkan budaya menabung dan edukasi publik tentang fungsi dan peranan perbankan, kita mungkin bisa menerima alasan pemberian bunga yang alakadarnya tersebut. Namun jika alasannya adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendanaan pembangunan masyarakat, kita kembali bisa berdebat lagi".
 
Pada paragraph berikutnya justru beliau lebih kritis lagi bahwa, "Jika program Tabunganku ini berhasil sesuai dengan target BI sebesar Rp 50 Triliun dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, maka perbankan nasional kembali dapat memperoleh dana murah. Tidak ada jaminan bahwa dana sebesar tersebut memang betul-betul disalurkan oleh perbankan nasional untuk mendanai pembangunan nasional. Jika akhirnya memang disalurkan ke kredit untuk menumbuhkan sektor riil, bank malah bisa untung besar karena bunga kredit saat ini jarang yang di bawah 5 persen, kalau tidak bisa disebut mustahil serendah itu. Lagi-lagi bank yang lebih diuntungkan." Menurut Bpk Budi, “Meningkatkan Partisipasi Masyarakat untuk Membantu Bank untuk Mendanai Pembangunan Bank” justru lebih tepat."
 
Kalau BI mau menggerakkan angka pertumbuhan dengan harapan akan semakin banyak investasi dari perbankan dari dana yang terkumpul sudah sewajarnya yang harus diatur itu para bankir malas dan cenderung tidak mau menurunkan suku bunga kredit. Terlalu banyak instrumen moneter yang mereka mainkan untuk kepentingan profit bukan untuk tujuan asalnya pengelolaan likuiditas. Berapa banyak Bank di negeri ini yang LDR/FDR nya lebih dari 100%. Mungkin hanya 1 atau 2 bank itupun kemungkinannya bank syariah.
 
Dalam Islam justru masalah ekonomi ini telah diatur dengan baik, sehingga harta itu tidak berkumpul hanya pada sekelompok orang saja sebagaimana diatur dalam Surat Al-Hasyr ayat 7 yang artinya :”supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Oleh karenanya tidak ada pilihan lain kecuali memproduktifkan harta yang kita miliki dengan cara membangun bisnis dan berinvestasi. Membangun bisnis dengan kaidah-kaidah yang telah diajarkan dalam syari’at islam, bisnis Islami. Begitu pula ketika berinvestasi.
 
Dengan ditabung saja, disamping tidak produktif, uang kita juga berpotensi berkurang terus karena ketika tabungan tersebut sudah mencapai nishab harus menunaikan zakatnya. Sedang bila di produktifkan, sekalipun juga berkewajiban menunaikan zakatnya tetapi insya Allah harta kita akan terus berkembang.
 
Memang menabung dalam kondisi dan maksud tertentu sangatlah bagus. Untuk persediaan sekolah anak-anak, ingin naik haji, ingin membangun rumah, beli mobil, perencanaan bisnis dll, kita bisa persiapkan dengan cara menabung. Jadi tidak salah kalau motif menabung itu adalah untuk jaga-jaga. Adapun untuk untuk jangka panjang uang yang sudah terkumpul tersebut selayaknya diinvestasikan, karena kalau tidak berinvestasi pastilah nilainya akan turun dari tahun ke tahun apakah tergerus inflasi, dan biaya administrasi.
 
Justru sebaiknya sekarang ini yang perlu digalakkan kembali ada semangat kekeluargaan yang diimpikan oleh Bung Hatta dalam Koperasi. Simpanan para anggota yang kecil-kecil akan dihimpun untuk mewujudkan kekuatan rakyat, dari rakyat untuk rakyat. Semoga rakyat Indonesia di masa depan semakin berdaulat dari sisi ekonomi, bukan menjadi obyek eksploitasi kaum kapitalis.
 
Merdeka, Merdeka !!